Selasa, 08 November 2011

Tiga Karakteristik Manusia

Dalam kehidupan ini manusia dapat diklasifikasi dalam tiga kategori, yaitu:
1. Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Islamiah
Ia adalah orang yang rajin beribadah dan rajin ke masjid. Orang yang seperti
ini harus dinomborsatukan, kerana mereka lebih dekat dengan dakwah kita, sehingga
tidak membutuhkan tenaga yang banyak dan untuk mengajak mereka pun tidak
banyak kesulitan, insya Allah.
2. Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Asasiyah
Ia adalah orang yang tidak taat beragama, tetapi tidak mahu terang-terangan dalam
berbuat maksiat kerana ia masih menghormati harga dirinya. Orang-orang
semacam ini menempati urutan kedua.
3. Manusia yang Berperilaku dengan Akhlak Jahiliah
Ia adalah orang yang bukan dari golongan pertama atau kedua. Dialah orang yang
tidak peduli terhadap orang lain, sedang orang lain mencibirnya kerana perbuatan
dan perangainya yang jelek. Rasulullah saw. bersabda,
"Sesungguhnya sejelek-jelek tempat manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah
orang yang ditinggalkan (dijauhi) masyarakatnya kerana takut dengan kejelekannya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Golongan inilah yang disebut dalam sabda Rasulullah saw. sebagai: "Sejelek-jelek
teman bergaul". (HR. Muslim)
Orang-orang semacam ini menempati urutan terakhir dalam prioritas
dakwah fardiyah.
Ada seseorang berdin di bawah pohon epal yang sedang berbuah lebat. Jika ia
ingin memetik, ia terlebih dulu memetik buah yang dapat dijangkau dengan
tangannya. Jika sudah habis, dan tinggal yang paling atas, maka jika dapat dijangkau
buah itu akan dipetik dan kalau tidak, buah tersebut tidak akan terpetik.
Bukan bererti seorang da'i harus tetap berpegang dan terikat dengan urutan ini,
kerana kadangkala keadaan bisa mengubah pandangannya dalam hal ini —dengan
izin Allah— seperti yang terjadi pada Umar bin Khathab ra., Khalid bin Wahd ra., Amr
bin Ash ra., dan yang lain.
Ada seseorang yang pergi ke pantai untuk memancing ikan dengan membawa
peralatan pancing. Menurut pengalamannya, dengan peralatan yang ia bawa itu
hanya akan mendapatkan ikan-ikan kecil. Tetapi pada saat itu ia terkejut kerana
mendapatkan ikan yang besar.
Ada beberapa pemuda dari daerah Bulaq, Kairo, yang berkeliling mencari tanah yang
kosong untuk digunakan sebagai tempat peringatan Maulid Nabi Muhammad saw.,
yang akan dihadiri oleh Imam Hasan Al-Banna sebagai pembicara. Di sebelah
warung makan, mereka menjumpai tanah lapang, lalu mereka bertanya kepada
pemilik warung makan tersebut. Pemilik warung itu adalah Ustadz Ibrahim
Karrum, seorang tokoh dari daerah Bulaq yang disegani oleh pemerintah yang
berkuasa pada waktu itu dan disegani pula oleh kawan sendiri. Setelah mengetahui
maksud dan tujuan pemuda-pemuda itu, beliau menyambutnya dengan sambutan
yang luar biasa dan menyatakan kesediaannya. Setelah mereka kembali, mereka
menceritakan kejadian yang baru saja mereka alami kepada Ustadz Hasan Al-Banna
Ketika Ustadz Al-Banna berangkat untuk berceramah dalam acara tersebut,
terlebih dahulu beliau mengunjungi Ustadz Ibrahim Karrum dan mengucapkan
terima kasih atas kebaikannya. Begitu pula tatkala beliau mulai berceramah,
beliau juga mengucapkan terima kasih kepada Ustadz Ibrahim Karrum untuk
kedua kalinya.
Sejak saat itu, Ustadz Ibrahim aktif dalam Jamaah Ikhwanul Muslimin. Pada bulan
Maret 1954 M. beliau memimpin demonstrasi akbar terhadap Jamal Abdun Naser.
Mereka menuntut agar Presiden Muhammad Najib dipulangkan ke Mesir dan
anggota Ikhwanul Muslimin yang dipenjara dibebaskan. Beliau juga pernah dipenjara
bersama anggota Ikhwanul Muslimin yang lain. Semoga Allah swt. memberikan
rahmat kepadanya.
Tatkala seorang da'i melihat beberapa pemuda — yang wajah mereka
menyiratkan ketaatan— maka ia berkeinginan untuk berkenalan dan mengajak
mereka ke jalan dakwah.
Yang perlu diperhatikan adalah dalam mendekati mereka dibutuhkan langkah
yang cermat, kerana biasanya pemuda-pemuda ini mempunyai seseorang yang,
mereka segani dan hormati. Jika seorang da'i dapat mendekati orang tersebut, sangat
dimungkinkan pemuda-pemuda itu mengikuti dakwah kita. Namun jika pendekatan
ini tidak berhasil, sebagai da'i, ia tidak boleh putus asa. Ia harus mendekati salah satu
pemuda —di antara pemuda-pemuda tadi— yang pemahamannya terhadap dakwah
islamiah lebih mantap, bergaul dengannya — dan juga yang lain— dengan sabar
dan penuh kasih sayang tanpa menyinggung permasalahan yang dapat
menyebabkan hubungan itu terganggu. Jika —dengan izin Allah— pemuda itu
mahu menerima ajakan kita, ini akan sangat membantu usaha kita untuk
mengajak teman-temannya yang lain.
Pendekatan itu harus dilakukan dengan lemah lembut. Kita harus menyadari
bahawa kita tidak diwajibkan untuk memastikan mereka semua menerima ajakan
kita, namun jika mereka semua menerima ajakan kita, itu adalah rahmat dari Allah.
Hanya Dialah yang berhak memberikan hidayah. Allah berfirman,
"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberikan petunjuk kepada orang yang kamu
cintai, tetapi Allah-lah yang memberi hidayah kepada yang dikehendaki-Nya dan Allah
lebih mengetahui orang-orangyang mahu menerima petunjuk." (Al-Qashash: 56)
Ayat ini menjelaskan bahawa walaupun kita memberikan segenap hati kita untuk
mengajak mad'u kita, tetapi hanya Allah-lah yang berhak membolak-balikkan hati
orang tersebut.
Seorang tukang roti berdin di depan forn (tempat pembakaran roti), sambil
memasukkan potongan-potongan roti ke dalamnya. Setelah menunggu beberapa saat,
ia mengeluarkan roti yang sudah matang dan membolak-balikkan yang belum matang.
Setiap kali ada roti yang sudah matang, ia akan mengeluarkannya. Bisa dipastikan
bahawa ada beberapa potong roti yang jatuh ke dalam api dan terbakar.
Inilah keadaan da'i tatkala berdakwah di masyarakat; ia memberi sekaligus
menerima (give and take). Suatu saat ia mendekat dan pada saat yang lain ia
menjauh.
Ia akan memberi kepada setiap orang sebagaimana seorang doktor yang
memberikan ubat dengan berlaku sabar. Setelah selang beberapa waktu, di antara
mereka sudah ada yang tersinari oleh cahaya iman (inilah roti yang telah matang),
ada yang menyambut ajakan tersebut kerana perasaan takut, ada yang menyambut
ajakan tersebut kerana malu, ada yang bersikap angin-anginan, ada pula yang
menjauh, dan bahkan ada yang berlaku tidak baik terhadap sang da'i. Untuk
menghadapi mereka itu, kita tidak boleh putus asa, tetapi harus terus berusaha
sehingga yang ditunggu-tunggu dapat dipetik, disertai doa agar Allah membukakan
hati mereka.
Adapun da'i yang menghabiskan waktunya hanya untuk satu orang dengan
harapan agar orang tersebut mahu menerima ajakannya adalah tidak benar. Orang
tersebut akan merasa bahawa dirinya diajak dengan cara yang sangat berlebihan,
sehingga ia akan berprasangka buruk, dan bisa jadi ia akan lari dari ajakan itu, kecuali
orang-orang yang diberi rahmat oleh Allah swt.
Kaedah yang harus kita perhatikan adalah: "Ambillah yang mudah dan tinggalkan
yang sulit, jika ada yang mudah".
Continue reading...

Rintangan Dakwah

Permasalahan yang menghadang seorang da'i di tengah medan dakwah adalah
permasalahan yang muncul dari dalam dirinya, padahal orang yang tidak memiliki sesuatu
tidak akan bisa memberikan sesuatu tersebut. Seseorang yang tidak memiliki kunci,
maka sulit baginya untuk masuk. Manusia yang hatinya terkunci sehingga sulit
dimasuki oleh dakwah, bagaikan brankas besar yang sebenarnya dapat dibuka hanya
dengan kunci yang kecil. Demikianlah persoalannya, yang sesungguhnya kembali
kepada diri sang da'i itu sendiri, yakni berkaitan dengan potensi dirinya secara ruhiah, di
samping kecekapannya untuk membuat program, serta ketahanan dalam
mewujudkannya.
Jika kita telah faham bahawa syaitan juga membuat program untuk para
pengikutnya dengan langkah-langkah yang bertahap (sebagaimana firman Allah,
"Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan." (Al-Baqarah: 168), maka sudah

selayaknya seorang da'i juga membuat program dan langkah-langkah dalam mengambil
simpati mad'u. Sungguh sangat jauh berbeza antara tujuan syaitan dengan tujuan
orang-orang yang beriman. Allah swt. berfirman,
"Dan janganlah kalian berhati lemah dalam mengejar mereka (musuh kalian). Jika
kalian menderita kesakitan (kekalahan), maka mereka sesungguhnya juga menderita
kesakitan (pula), sebagaimana kalian menderitanya. Sedangkan kalian mengharap
dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana."
(An-Nisa': 104)
Oleh kerananya, seorang da'i hendaklah memperhatikan celah-celah kebaikan
yang ada pada orang lain kemudian memupuknya, sehingga celah-celah keburukan
yang ada padanya tersingkir dan ia mahu bangkit berdiri melangkah di jalan Islam.
Tugas seorang da'i seperti tugas seorang pengajar dan dokter yang akan
memberikan ubat sesuai dengan penyakit yang diderita oleh pesakitnya. Tidak
masuk akal kalau semua pesakit diberi ubat yang sama, kerana penyakit mereka tentu
berbeza-beza satu sama lain.
Pengajar dan doktor adalah da'i yang paling berjaya, jika mereka bersedia
melakukan pekerjaan itu dengan didasari keimanan kepada Allah dan untuk
menegakkan agama-Nya. Didasari oleh alasan inilah, para misionaris dalam
memerangi dunia Islam memusatkan perhatian mereka pada universiti-universiti
dan rumah sakit-rumah sakit, serta menyalurkan berbagai bentuk bantuan.
Tugas pengajar adalah menghayati hati dan pola pemikiran siswa, lalu
membimbing mereka sedikit demi sedikit, sehingga tujuan yang hendak dicapai dapat
terlaksana, sedangkan tugas doktor adalah menghapus penderitaan pesakit dengan
kata-kata yang dipenuhi keimanan dan memberikan ubat yang sesuai.
Mungkinkah seorang da'i mengajak orang lain untuk kembali kepada ajaran-ajaran
Islam tanpa memberikan kasih sayang kepadanya?
Perilaku dan keteladanan seorang da'i yang ikhlas akan mempunyai pengaruh
yang lebih besar daripada tulisan dan ceramah. Ibarat remote control yang dapat
digunakan untuk memindahkan acara TV dari jarak yang jauh tanpa harus
memakai kabel, begitu juga dengan seorang da'i yang ikhlas dan penuh kasih sayang
la tidak akan kesulitan memasukkan apa yang ada dalam hatinya ke dalam hati orang
lain.
Jika tatapan mata yang dipenuhi oleh rasa iri dan dengki itu dapat memberikan
mudharat, maka tatapan mata yang dipenuhi rasa iman dan kasih sayang akan
menimbulkan cinta dan keimanan.
Dari sini kita dapat mengetahui betapa berharganya indra yang diberikan oleh
Allah swt. kepada manusia. Indra adalah bagian penting dari tubuh manusia,
sedangkan jasad secara keseluruhan adalah sebagai tempat tinggal bagi indra tersebut.
Allah swt. berfirman,
"Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan
penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa
mengembalikannya kepadamu?' Perhatikanlah bagaimana berkali-kali Kami perlihatkan
tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga)." (Al-An'am:
46)
"Katakanlah, 'Dialah Yang menciptakan kalian dan menjadikan bagi kalian
pendengaran, penglihatan, dan hati.'" (Al-Mulk: 23)
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan
manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayatayat
Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) lidak dipergunakannya untuk melihat
(tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang
ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Al-A'raf: 179)
Orang yang tidak mengetahui dan mensyukuri nikmat Allah swt. berupa indra
adalah orang yang tidak mengetahui sumber kehidupan yang amat besar. Allah swt.
berfirman,
"Ataukah seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang
di atasnya ombak (pula), di atasnya lagi awan; gelap gulita yang tindih-menindih,
apabila ia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa
yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tidaklah dia mempunyai cahaya
sedikitpun." (An-Nur: 40)
Dengan kehilangan indra, manusia akan menjadi sosok makhluk yang tidak hidup
dan tidak mati. Ia menjadi makhluk yang tidak berguna. Kalau sudah begitu, maka ia
tidak akan bisa memberikan pengaruh kepada orang lain, kerana alat penerima dan
pengirim sudah lidak lagi berfungsi, seperti orang yang tidur di atas ranjang etnas
tetapi ia tidak menyadarinya, kerana indra-nya sedang tidak berfungsi. Manusia yang
demikian itu membutuhkan orang yang membangunkan dari tidur-nya yang lelap.
Allah swt. berfirman,
"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan
kepadanya cahaya yang terang, yang dengan itu ia dapat berjalan di tengah-tengah
manusia, serupa dengan orang yang keadaanya dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak
dapat keluar darinya?" (Al-An'am: 122)
Marilah kita perhatikan gambaran-gambaran berikut,
"Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, danpenglihatan mereka
ditutup. Bagi mereka siksa yangamat berat." (Al-Baqarah: 7)
"Dan Kami adakan tutup di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar
mereka tidak dapat memahaminya. Apabila kalian menyebutRabb kalian saja dalam Al-
Qur'an, niscaya mereka berpaling ke belakang kerana bencinya." (Al-Isra': 46)
Orang yang tidak menggunakan indranya adalah orang yang hidup dalam
"dunia yang tidak nyata", sehingga alam sekitarnya tidak akan melihat dan merasakan
keberadaannya, serta tidak akan sedih jika ditinggal pergi.
Mereka tidak memahami makna hidup yang sebenarnya, tujuan penciptaan, dan
tanggung jawab yang dibebankan. Adapun da'i, ia ibarat qalbu (hati), maka
barangsiapa yang tidak memfungsikan hatinya, ia tidak mendapatkan sambutan dari
masyarakatnya.
Allah swt. berfirman,
"Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku Iemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu berlaku keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari
sekelilingmu." (Ali Imran: 159)
Hati yang beriman adalah sumber penggerak, sebagaimana firman-Nya,
"Tiada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan seizin Allah.
Barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada
hatinya." (At-Taghabun: 11)
Perasaan dan kasih sayang adalah "bahasa" internasional yang dipergunakan oleh
da'i dalam menghadapi seluruh penduduk bumi, hingga kepada orang bisu
sekalipun.
Kerana rahmat Allah-lah Anda berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya
kamu berlaku keras lagi kasar, tentulah mereka akan menjauhimu, wahai para da'i.
"Bahasa" ini ibarat mata wang yang ditetapkan untuk dipakai oleh setiap negara
secara internasional. Dengan "bahasa" inilah, generasi pertama umat ini dapat
menaklukkan dunia. Mereka adalah lentera kehidupan.
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orangorang
yang mempunyai akal atau mempergunakan pendengarannya, sedang dia
menyaksikannya." (Qaaf: 37)
Oleh kerana ltu, barangsiapa tidak mengingat, merasakan, dan terpengaruh oleh
keburukan atau keindahan, ia adalah orang yang tidak mempunyai hati.
Continue reading...

bagaimana membina karakter mukmin sejati

Individu adalah komponen terkecil penyusun masyarakat, Dia memegang
peranan penting dalam menentukan perjalanan dan bentuk masyarakat itu
sendiri. Oleh kerana itu, yang menjadi tonggak dalam gerakan kita adalah individu,
kemudian keluarga, dan akhirnya masyarakat. Maka perbaikilah dirimu terlebih
dahulu, kemudian serulah orang lain ke jalan kebaikan. Kerana terwujudnya
peribadi-peribadi yang benar-benar mukmin akan membuka banyak peluang untuk
sukses. Inilah karakteristik Islam yang paling menonjol, iaitu pembentukan pribadi
islami

Walau jumlah orang yang memusuhi Islam sangat banyak, namun jika kita dapat
mengajak satu orang dari mereka dalam setiap hari agar mahu bergabung dalam
dakwah islamiah, maka perlahan tapi pasti kita telah mengentaskan mereka dari
kehinaan jahiliah menuju kemuliaan di bawah naungan cahaya Islam.
Bukankah ini adalah tujuan dakwah? Bukankah mencari pengikut dengan cara
seperti ini adalah tindakan yang bijaksana dan akan membuahkan hasil yang jelas?
Tugas kita adalah meluruskan pendapat umum yang salah terhadap Islam. Jika
individu bisa menjadi baik, maka nusyarakat pun akan menjadi baik, dan dengan
sendiri-nya Islam akan berdiri tegak.
Dalam jamaah dakwah islamiah sendiri, kita mengadakan suatu program yang kita
sebut dengan projek al-akh al-wahid, yaitu setiap anggota berjanji dan berusaha untuk
mengajak satu orang anggota baru dalam satu tahun.
Tidak seorang pun diperbolehkan menunda-nunda waktu, kerana perputaran
waktu adalah bahagian dan pengobatan dan pembentukan (at waqtu juz'un minal
'ilaj wat takwin). Sehari dalam kehidupan individu adalah setahun dalam kehidupan
umat. Umat yang mengerti betul akan hakikat kehidupan, mereka tidak akan
pernah mati.
Ini semua akan bergantung pada para da'i dalam memandang kesucian dan
urgensi risalah dakwah serta bergantung pada pengorbanan para da'i, baik harta,
tenaga, maupun waktu.
Yang perlu diperhatikan oleh para da'i pada masa pembentukan (fase
takwiniyab) adalah memberikan uswah hasanah, bertujuan menampilkan di hadapan
masyarakat gambaran nyata tentang Islam. Ini harus dilakukan dengan kemantapan

iman, pemahaman yang universal, dan bertoleransi dalam masalah-rnasalah khilaf dan
furu.
Metode dakwah haruslah secara tadarruj (bertahap), sebagaimana firman Allah
swt.,
"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat."
(Asy-Syu'ara: 214)
"Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan
(kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. "
(Al-Hijr: 94)
"Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, kerana
sesungguhnya mereka telab dianiaya. Sesunggubnya Allah benar-benar Mahakuasa
menolong mereka itu." (Al-Hajj: 39)
Dari anasir jahiliah, Rasul mencetak pasukan hidayah. Dari anasir hidayah,
Rasul menaklukkan negen-negeri thaghut. Di jalan itulah, Rasul meletakkan
sistem dakwahnya.

Tugas Kita

Dalam memberikan arahan (taujih) tentang tugas dakwah, Imam Syahid
Hasan Al-Banna memberikan perumpamaan dengan perkataannya, "Di setiap
kota terdapat pusat pembangkit tenaga elektrik. Para pegawai memasang
instalasinya di seluruh penjuru kota, memasang tiang dan kabel, setelah itu aliran
elektrik masuk ke pabrik-pabrik, rumah-rumah, dan tempat-tempat lain. Jika aliran
elektrik tersebut kita matikan dari pusat pembangkitnya, niscaya seluruh penjuru
kota akan gelap gulita. Padahal saat itu tenaga elektrik ada dan tersimpan di pusat
pembangkit elektrik, hanya saja tenaga elektrik yang ada itu tidak dimanfaatkan."
Demikianlah, Allah swt. telah menurunkan Al Qur'an Al-Karim kepada
kita, dan dialah sebesar-besar energi dalam kehidupan ini. Allah swt. berfirman,
lSesunggubnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah, dan kitab yang
menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti
keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itupula) Allah mengeluarkan mereka
dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan
menunjuki mereka ke jalan yang lurus." (Al-Maidah: 15-16)
Begitu pula dengan Al-Qur'an Al-Karim, ia adalah pusat pembangkit "tenaga"
bagi kaum muslimin, tetapi sumber kekuatan itu kini dicampakkan oleh kaum
muslimin sendiri, sehingga hati mereka menjadi gelap dan tatanan kehidupan pun
menjadi rusak.
Tugas kita sebagai da'i adalah seperti tugas para pegawai elektrik, mengalirkan
kekuatan ini dan sumbernya ke setiap hati orang-orang muslim agar senantiasa
bersinar dan menerangi sekelihngnya. Allah swt. berfirman,
"Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami
berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu ia dapat berjalan di tengahtengah
masyarakat manusia, serupa dengan keadaan orang yang berada dalam gelap
gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?" (Al-An'am: 122)
Tatkala Anda ingin memikat hati mad'u, Anda harus ingat bahwa Anda adalah
seorang da'i, bukan seorang ulama atau fuqaha. Tatkala Anda berdakwah, Anda
harus ingat bahwa Anda sedang memberikan hadiah kepada orang lain, maka Anda
harus mempertimbangkan hadiah apa yang sekiranya patut diberikan dan bagaimana
cara memberikannya
Continue reading...

Sabtu, 05 November 2011

Korupsi dan Citra Politisi Muda indonesial

Sungguh menyedihkan ketika membaca berita yang menyebutkan kasus-kasus korupsi di tanah air belakangan ini ternyata pelakunya ataupun tersangkanya melibatkan para politisi muda kita. Mau dibawa kemana negeri ini? begitulah rata-rata komentar yang muncul atas berita itu.
Lingkaran Survei Indonesia (LSI), sebuah lembaga yang melakukan penelitian tentang kasus-kasus korupsi itu menyebutkan, lima ranking tertinggi berita korupsi di 2011 didominasi oleh politisi muda. Data itu berdasarkan survei LSI soal kekecewaan publik terhadap kiprah politisi muda di tanah air.
Dari hasil survei itu, yang berada di urutan teratas dalam berita-berita korupsi ada nama-nama politisi muda yang beken seperti Nazaruddin yang baru berumur 33, Angelina Sondakh yang berumur 34, Anas Urbaningrum (42), Andi Mallarangeng (48), dan Muhaimin Iskandar (45).
Memang nama-nama itu belum tentu bersalah, karena proses hukum masih terus berjalan sampai sekarang. Tetapi terpampangnya nama-nama politisi muda ini dalam berita-berita korupsi di media massa, telah membentuk persepsi dan opini publik yang negatif, paling tidak itu gambaran dari survei tadi.
Betul bahwa secara hukum, para politisi muda ini belum tentu bersalah, tetapi berita seputar mereka sudah merusak dan menghempaskan harapan publik terhadap para politisi muda.
Perjalanan kehidupan berdemokrasi negeri ini yang sudah dimulai sejak runtuhnya orde baru lebih dari sepuluh tahun lalu, sungguh telah diletakkan pada pundak para politisi muda ini. Masyarakat sudah tak lagi percaya kepada para politisi tua yang sebelumnya dianggap korup.
Bahkan ketika gerakan menumbangkan rezim orde baru sedang gencar-gencarnya, muncul jargon "Potong Generasi" yang seolah menggambarkan bahwa generasi politisi tua sudah tidak diperlukan lagi dan harus di"potong", digantikan oleh generasi politisi muda yang dirasa lebih menjanjikan.
Dalam perjalan gerakan reformasi sampai sekarang, harapan munculnya para politisi muda yang mampu memimpin kebangkitan bangsa masih terus didengungkan. Termasuk harapan munculnya generasi politisi muda dalam deretan nama calon presiden dan wakil presiden.
Tetapi dengan hasil survei LSI seperti itu, tentu saja mulai ada kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Tentu kita berharap, hasil survei ini tak menggambarkan sepenuhnya kualitas para politisi muda kita, sebab regenerasi dan estafet tongkat kepemimpinan itu mau tidak mau, suka tidak suka, harus terus berjalan.
Di luar soal siapa yang masuk dalam pemberitaan tentang korupsi, yang menjadi pertanyaan lain adalah, sudah sebegitu hebatkah budaya korupsi di negeri ini. Meski dari data yang dikeluarkan lembaga-lembaga independen, masih menempatkan Indonesia pada posisi atas negara korup, tetapi tentu kita tak ingin melihat kenyataan bahwa budaya korupsi itu tak bisa dieliminir tetapi bahkan seolah diwariskan.
Kita mencibir Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika "curhat" tentang banyaknya uang negara yang di"rampok". kita mencibir karena presiden kita yang satu ini, sejak awal menduduki kursi RI-1 sudah mendengungkan perang terhadap korupsi. Sejumlah lembaga dibentuk termasuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Tetapi alih-alih makin berkurang, kasus-kasus korupsi justru sepertinya malah makin tumbuh subur. Bukan saja dari jumlah kasus, tetapi kualitas koruspinya juga meningkat. Tak hanya melibatkan pejabat pusat, tetapi juga pejabat daerah, tak hanya melibatkan pejabat tinggi tetapi juga pegawai rendahan, tak hanya melibatkan pejabat lembaga eksekutif, tetapi juga pejabat lembaga Yudikatif dan bahkan para wakil rakyat.
Tanpa bermaksud menghakimi para politisi muda kita dengan hasil survei yang bisa saja masih argumentatif, tetapi selayaknya gambaran ringkas bisa menjadi bahan interospeksi diri. Buatlah itu sebagai cermin meski kelihatan sedikit buram.
Semoga saja para politisi muda kita tidak terjebak dalam sistem yang korup ini. Kita yakin masih banyak politisi muda yang punya idealisme dan semangat untuk membangun negeri ini. Mereka tak boleh hanya menjual sentimen generasi mudanya tetapi lebih menjual kualitas, kinerja dan integritas sebagai politisi yang bersih dan bermartabat. Kalau tidak, tentu mereka akan dilibas kembali oleh politisi-politisi gaek yang banyak uang.
Continue reading...
 

artikel terbaru

all posts

Followers

pengunjung

free counters Web Directory

Add to Google Reader or Homepage

sharetex Copyright © 2011 Not Magazine 4 Column is Designed by ojasetiawan Sponsored by sharetex.blogspot.com