Minggu, 13 November 2011

Perasaan Kesepian Pengaruhi Kualitas Tidur

Sungguh menyedihkan hidup dalam kesepian. Selain kurangnya dukungan sosial, bahwa kesepian juga mengganggu waktu istirahat malam. Para peneliti mengatakan kurangnya tidur merupakan salah satu cara perasaan kesepian yang bisa mempengaruhi kesehatan.

Peneliti dari Universitas Chicago membandingkan tingkat kesepian 95 orang dewasa di pedesaan South Dakota, AS dengan hasil pengukuran siklus tidurnya. Tidak ada individu yang terisolasi secara sosial, namun persepsinya tentang kesepian bervariasi.

Skor kesepian yang lebih tinggi berkaitan dengan tingginya tingkat tidur yang terputus di malam hari. Jumlah total tidur dan kantuk di siang hari tidak mempengaruhi.

"Bukan hanya karena individu yang sangat kesepian menjadi kurang tidur. Hubungan antara kesepian dan kegelisahan tidur terjadi pada berbagai keterkaitan yang dirasakan," kata pemimpin penulis Lianne Kurina, PhD, dari Departemen Ilmu Kesehatan di Universitas Chicago seperti dikutip dari medicalxpress.com, Rabu (2/11/2011).

"Kesepian berkaitan dengan efek buruk terhadap kesehatan. Kami ingin menjelajahi teori bahwa tidur dapat dipengaruhi oleh perasaan kesepian. Kami menemukan bahwa kesepian tidak mengubah jumlah total tidur individu, tapi membangunkan indvidu lebih sering sepanjang malam," ujarnya.

Temuan ini hampir sama dengan penelitian sebelumnya tahun 2002 yang diterbitkan oleh American Psychological Society yang membandingkan kesepian dengan kualitas tidur yang dilaporkan oleh siswa. Para siswa yang merasa kesepian lebih sering terganggu tidurnya di malam hari.

Kesamaan antara kajian ini membantu menunjukkan bahwa kesepian dan isolasi sosial adalah dua konsep yang berbeda. Peneliti berpendapat bahwa kesepian mencerminkan isolasi sosial yang dirasakan atau perasaan menjadi orang buangan, yaitu kesenjangan antara hubungan yang diinginkan dengan hubungan sosial sebenarnya yang sering terasa menyakitkan.

"Kita semua nampaknya bergantung pada perasaan aman dalam lingkungan sosial untuk dapat tidur nyenyak. Hasil dari penelitian ini bisa memberi pemahaman yang lebih jauh mengenai bagaimana faktor-faktor sosial dan psikologis mempengaruhi kesehatan,(sumber detik surabaya)
Continue reading...

Rabu, 09 November 2011

Panduan Mencari Pasangan Hidup


Islam merupakan sebaik-baik agama yang memandu manusia kepada
kebahagian sejati baik di dunia mahupun akhirat. Islam juga menyediakan panduan
yang lengkap dalam menjalani kehidupan sebagai manusia.
Firman ALLAH S.W.T yang Maksudnya:
“Sesiapa yang mencari agama selain daripada Islam, maka dia tidak diterima (di sisi kami) dan
di hari akhirat kelak dia akan termasuk di kalangan mereka yang rugi.” – Surah Ali 'Imran: 85.
Manusia telah diciptakan oleh ALLAH S.W.T dengan bentuk kejadian yang unik
dan berbeza daripada makhluk-makhluk-NYA yang lain. Bermula daripada Adam a.s
dan seterusnya makhluk yang bergelar wanita pertama bernama Hawa. Daripada
mereka berdua lahirlah generasi manusia berikutnya melalui proses percantuman
benih antara lelaki dan wanita.
Kehidupan bermula apabila berlaku persetubuhan antara seorang lelaki dengan
seorang wanita. Daripada perbuatan ini, lahirlah benih yang bernyawa di mana ia
membesar dari rahim seorang wanita. Akhirnya muncullah seorang generasi baru yang
kemudiannya bergerak dan berjalan di muka bumi.
Firman ALLAH S.W.T yang Maksudnya:
“Daripada apakah manusia itu diciptakan ?” – Surah 'Abasa: 18.
Firman ALLAH S.W.T yang Maksudnya:
“Dari setitis air mani (air lelaki) ketika ia tertumpah ke dalam rahim (kemaluan wanita).” –
Surah al-Najm: 46.
Melalui proses ini, kehidupan sosial manusia terbentuk, lahir dan wujud di
hadapan kita pada hari ini. Demi kelangsungan fitrah yang ditetapkan oleh-NYA
dalam mentadbir urusan dan perjalanan kehidupan, DIA yang Maha Agung dan Maha
Berkuasa telah menetapkan bahawa kejadian manusia yang berbeza jantina itu
dipenuhi dengan sifat kasih sayang dan memiliki daya tarikan biologi secara semula
jadi antara satu sama lain.
Firman ALLAH S.W.T yang Maksudnya:
“(Tetaplah atas) fitrah ALLAH yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” - Surah
Ar-Rum: 30.
Continue reading...

Selasa, 08 November 2011

Bagaimana Memulai Perkenalan

Suatu hari di tahun 1951 M. saya berada di pejabat cabang Ikhwanul Muslimin di
Jalan Iskandarani, Iskandaria. Lalu ada dua orang datang, yang sudah mempunyai janji
dengan salah seorang teman. Saya sambut kedatangan mereka dengan menyebut
nama-nama mereka. Tatkala teman yang mereka tunggu itu datang, mereka berkata
kepadanya, "Kami tidak mengenalnya sebelum ini, tetapi bagaimana ia mengenal
nama kami?" Kemudian saya diajak duduk bersama. Lalu saya berkata kepada
keduanya, "Bukankah kalian berdua setiap pagi naik trem dari stesen Rashafah?"
Keduanya menjawab, "Ya." Saya berkata, "Saya setiap pagi juga naik trem yang
sama." Mereka berkata, "Akan tetapi kami tidak melihat anda bersama kami." Saya
berkata, "Kerana saya memakai seragam militer." Keduanya teringat dan tersenyum
lalu berkata, "Bagaimana Anda mengetahui nama kami?" Saya berkata, "Saya
mendengar salah seorang di antara kalian berkata, 'Selamat pagi, Muhammad,'
lalu yang satunya menjawab, 'Selamat pagi, Ahmad.'" Keduanya berkata, "Untuk
apa Anda menghafal nama kami?" Saya menjawab, "Jawabannya adalah yang terjadi
saat ini."
Tabiat dakwah kita adalah saling mengenal, dan saya yakin bahawa pada suatu saat
dakwah kita akan dapat menghimpun orang-orang yang berjiwa baik dan
berkepribadian mulia. Kejadian di atas sangat membekas di hati keduanya.
Imam Hasan Al-Banna adalah da'i yang sangat gemar menghafal nama. Ketika Dewan
Tinggi Militer mengumumkan pemindahan beliau ke kota Qina di wilayah Sha'id
(Mesir) pada tahun 1941 M., pada waktu itu diadakan penyambutan kedatangan
beliau oleh pemuda-pemuda yang bergabung dalam gerakan pramuka, yang baru
pertama kali itu mereka melihat beliau. Ustadz Hasan Al-Banna berjabat tangan
dengan pemuda-pemuda itu dan menyebut beberapa nama mereka. Tatkala beliau
ditanya tentang bagaimana beliau bisa mengenal nama-nama tersebut, beliau
menjawab, "Ketika saya menandatangani kad anggota pramuka, saya menghafal
nama yang tertera dan raut wajahnya."
Pada tahun 1951 M. ada seorang tamu yang berkunjung ke pejabat cabang di
Rashafah. Ketika saya sambut kedatangannya dan saya tanyakan namanya, ia menjawab,
"Muhammad Syakir Gharbawi." Saya bertanya, "Dari Ismailia?" Ia menjawab,
"Ya. Anda tahu?" Saya berkata, "Sebentar." Lalu saya mengeluarkan buku catatan dari
laci meja, di situ tercatat bahawa pada tahun 1936 M. ada seorang pemuda utusan
Ustadz Hasan Al-Banna yang bernama Muhammad Syakir Gharbawi datang ke
Rasyid dalam rangka mengumpulkan dana untuk kaum mujahidin Palestina. Tatkala
target yang telah dicanangkan tidak terpenuhi, pemuda itu menangis. Ketika
Muhammad Gharbawi mengetahui isi catatan itu, ia langsung menangis dan
berkata, "Demi Allah, saya tidak menyangka kalau kejadian itu bisa terkenang
setelah waktu berlalu begitu lama."
Waktu itu saya sedang naik bus, tiba-tiba ada seorang pemuda berjanggut yang
berusia tidak lebih dari tujuh belas tahun naik dan duduk di sebelah saya. Pada waktu
itu janggut merupakan pemandangan yang sangat jarang ditemui. Hati saya
mengatakan, "Ini adalah kesempatan yang baik untuk berkenalan dengannya." Lalu
dengan senyum tipis saya bertanya kepadanya, "Maaf, kalau boleh saya tahu Saudara
ini memanjangkan janggut kerana tradisi atau kerana ibadah?" Kelihatannya ia tidak
faham dengan pertanyaan saya, lalu saya ulangi, "Kerana sunnah atau kerana yang
lain?" Ia menjawab, "Kerana sunnah Rasulullah saw." Lalu saya berkata dengan
gembira, "Masya Allah, Allahu Akbar!" Kemudian saya cepat-cepat mengulurkan
tangan dan memperkenalkan din, "Saya saudaramu seaqidah dari Rasyid. Saya
seorang pedagang." Ia pun lalu memperkenalkan diri, "Saya saudaramu seaqidah juga.
Saya siswa sekolah menengah atas di Al-Abbasiyah." Kemudian saya hafal nama dan
alamatnya pada waktu itu juga.
Saya sengaja memulai dengan memperkenalkan nama saya, kerana jika
menanyakan namanya terlebih dahulu mungkin ia akan curiga, lebih-lebih situasi
waktu itu sangat rawan.
Setelah melewati beberapa terminal, ia turun dan saya merasa gembira kerana
dapat berkenalan dengannya. Setelah kejadian itu, saya pun sering menghubunginya.
Di setiap perjalanan, saya biasa membawa mushaf, quran, atau majalah.
Biasanya, tatkala Anda membaca quran, orang yang duduk di sebelah Anda akan
melirik dan ikut membaca. Di saat inilah Anda dapat meminjamkan quran pada orang
tersebut. Setelah selesai membaca, ia akan mengembalikan quran itu dengan
mengucapkan terima kasih. Di saat itulah Anda dapat berkenalan dengan memulai
pembicaraan tentang topik yang dibahas dalam quran tersebut dan bagaimana
tanggapan Anda tentang topik tersebut.
Jika memang tidak memungkinkan, sebuah perkenalan tidak harus diakhiri
dengan mengetahui nama masing-masing, tetapi yang perlu diperhatikan adalah
hendaknya pembicaraan yang berlangsung itu berkisar sekitar dakwah islamiah,
kerana tugas kita adalah menyebarkan fikrah yang lslami. Mudah-mudahan Anda bisa
bertemu dengannya pada kesempatan yang lain dan bisa berkenalan lebih jauh lagi.
Kadang-kadang duduk di sebelah saya seseorang yang belum saya kenal, dan
saya berpikir bagaimana cara memulai pembicaraan. Jika saya lihat orang itu berkulit
putih, saya bertanya kepadanya dengan pertanyaan yang kedengarannya bodoh,
"Apakah Saudara dari Sudan?" Lalu ia melihat kepada saya dengan pandangan
kehairanan dan seakan-akan ingin berkata, "Apakah Anda buta?" Akan tetapi saya
mendahului berkata, "Saudara jangan marah, kerana saya pernah melihat orang Sudan
yang berkulit putih. Kalau begitu, Saudara ini dari mana?" Dengan begitu saya telah
membuka tirai kebisuan di antara kami, dan setelah itu kami dapat melanjutkan
pembicaraan. Jika orang itu berkulit coklat maka saya bertanya, "Apakah Saudara dari
Qubrus?" Begitulah seterusnya. Inilah cara yang kadang-kadang saya pakai untuk
membuka pembicaraan.
Suatu saat saya diundang untuk memberikan ceramah di pejabat cabang Ikhwanul
Muslimin di Matras, terletak di pinggiran kota Iskandaria. Pejabat cabang itu terletak
jauh dari jalan raya, kira-kira satu kilometer. Tatkala saya turun dari bus, ada
beberapa pemuda yang juga turun. Meskipun saya sudah mengetahui letak pejabat
cabang itu, tetapi saya minta mereka agar mahu menunjukkan tempat pejabat
tersebut. Di tengah perjalanan kami berbincang-bincang tentang dakwah islamiah,
dan tak lupa saya singgung juga acara yang diadakan di pejabat cabang Ikhwanul
Muslimin itu. Setelah sampai di tempat tujuan, beberapa dari pemuda tersebut ikut
bersama saya, dan di pejabat itulah kami lebih mengenal satu sama lain.
Suatu ketika kami dalam perjalanan dari Iskandaria ke Asyuth ibukota Sha'id.
Perjalanan itu membutuhkan waktu yang lama, sehingga kami membawa banyak
makanan ringan. Waktu itu kereta api macet di tengah jalan lebih dari dua jam.
Didorong oleh hadits, "Barang-siapa mempunyai kelebihan bekal, hendaklah memberikannya
kepada orangyang tidak mempunyai bekal," (HR. Muslim) maka salah seorang di
antara kami berdiri dan membagi-bagikan makanan kepada para penumpang. Dengan
demikian kami sudah membuka pintu untuk saling mengenal, dan kejadian itu
meninggalkan kesan yang baik di hati mereka.
Dulu, sebelum mengenal cara-cara yang islami dalam berdakwah, saya sering
menggunakan cara-cara hasil ijtihad saya sendiri untuk memulai perkenalan. Suatu
waktu saya pernah dengan sengaja menginjak kaki orang yang berdiri di sebelah
saya sewaktu naik trem. Orang itu lalu berteriak marah, "Apakah Anda buta?" Saya
menjawab dengan tenang, "Jangan terburu marah, wahai saudaraku. Memang saya ini
seperti orang buta, kerana penglihatan saya yang sudah melemah." Lalu orang
tersebut meminta maaf. Dengan demikian saya bisa mulai berkenalan
Continue reading...

Menghafal Nama

Menghafal nama adalah hal yang penting, kerana dari sinilah terjadi interaksi dan
lahir sifat saling percaya sesama individu. Ia merupakan langkah awal dan benang
pertama yang mengikat antara hati individu. Ia adalah benang yang mengikat bolabola
kecil yang berserakan. Setiap orang tentu akan merasa senang jika dipanggil
dengan namanya, apalagi dengan nama yang paling ia sukai.
Menghafal nama mempunyai peran yang amat penting. Oleh kerana itu, akan
saya paparkan beberapa metode yang dapat membantu permasalahan ini.
1. Hendaklah kita tanamkan rasa ingin dan suka menghafal nama orang lain.
2. Ketika sedang berkenalan, hendaklah kita siap untuk menghafal namanya —
secara lengkap atau sebagian saja— lalu mengingat-ingat dan memakainya pada saat
itu juga tatkala bercakap-cakap.
3. Nama biasanya terdiri dari tiga bagian: namanya sendiri, nama orang tuanya, dan
nama keluarganya. Nama yang paling disukai oleh pemiliknya adalah namanya
sendiri atau kuniah-nya. (sebutan nama yang dikaitkan dengan anak laki-laki
tertua, seperti Abu Khalid, Ummu Khalid, dan sebagainya). Jika Anda tambahkan
pada nama itu nama keluarganya,
itu akan lebih baik. Biasanya nama keluarga yang satu dengan yang lain tidak
sama jadi sangat mudah untuk dihafal, seperti As-Siisi. Adapun nama-nama seperti
Muhammad, Ali, Hasan, atau Sa'ad akan sangat banyak dijumpai, sehingga agak
sulit menghafalnya.
4. Ketika berkenalan dengan nama yang baru, Anda harus mengingat orangorang
yang mempunyai nama yang sama —yang telah Anda kenal sebelumnya—
agar mudah untuk menghafal.
5. Pada waktu berkenalan, Anda harus memperhatikan wajah dan keadaannya; apakah
la berjanggut, memakai kaca mata, bagaimana warna kulit, suara, bentuk tubuhnya,
pekerjaannya, serta di mana dan bagaimana perkenalan itu berlangsung.
6. Untuk memantapkan ingatan, Anda bisa menulis nama-nama tersebut, dan
setiap kali bertemu hendaklah Anda memanggil mereka dengan nama-nama
tersebut. Jika tempat tinggalnya jauh, hendaklah Anda mengirim surat kepadanya,
kerana ini mempunyai impak yang amat besar dalam mempererat hubungan anda
dengan mereka. Surat menyurat itu sendiri merupakan sarana dalam tarbiyah.
7. Ketika bertemu lagi, Anda harus mengingat-ingat pertemuan-pertemuan
sebelumnya dan pertemuan yang pertama kali, kerana ini dapat membantu anda
dalam mengingat namanya dengan cepat.
8. Berkenalan dengan seseorang merupakan pintu bagi anda untuk berkenalan
dengan teman-temannya, hingga anda mempunyai data nama yang amat
banyak. Anda pun harus berusaha agar nama-nama
itu tetap melekat di kepala.
Rasulullah saw. bersabda,
"Termasuk sifat angkuh adalah seseorang yang masuk ke dalam rumah temannya, lalu
disuguhkan kepadanya makanan, ia tidak mahu memakannya; dan seorang laki-laki
yang bersama-sama dengan laki-laki lain dalam perjalanan, tetapi ia tidak
menanyakan namanya dan nama orang tuanya." (HR. Ad-Dailami)
Continue reading...
 

artikel terbaru

all posts

Followers

pengunjung

free counters Web Directory

Add to Google Reader or Homepage

sharetex Copyright © 2011 Not Magazine 4 Column is Designed by ojasetiawan Sponsored by sharetex.blogspot.com